Rabu, 26 Desember 2007

Cantik Vs 'Cantik'

2 teman wanitaku membelalakkan matanya? "Sumpah. aku masih cantik?" seru satu diantaranya. Dia senang, bangga, dan juga tidak percaya. Tapi, matanya berkata, ia ingin mendengar (lagi) pujian itu.
2 teman wanitaku ini tak lagi muda. Yang satu berusia 37 tahun, satu lagi 35 tahun. Dan aku 33 tahun. Tanpa direncanakan (entah karena ingin cari bahan obrolan baru), aku mengomentari mereka berdua.
"Wi, kamu cantik pakai baju ini. Lebih muda 5 tahunan deh," komentarku, sekenanya.
Sontak Dewi kaget. "Biasanya kamu suka nyela. Ya model bajuku, dandananku, antingku, kalungku, sepatu, ikat rambutku. Semua deh."
"Nggak kok. Kali ini kamu cantik." Aku berkata tulus. Tentu saja temanku senang. Dan dengan tulus iya berbisik, "Makasih"
Kami pun berbicara tentang cantik dan 'cantik' versi kami.....
Aku teringat kampanye Lux tahun lalu tentang kecantikan adalah kekuatan. Beberapa temanku dan mungkin juga banyak orang memandang kecantikan itu identik dengan perempuan, penampilan, sikap (attitude), atau yang mengarah ke fisik dan inner beauty.
Kataku (yang diprotes dua temanku), menjadi cantik adalah sesuatu yang harus diupayakan. "Tapi cantik yang sejati adalah yang keluar secara alami dari dalam diri kita," protes temanku.
Perlahan-lahan aku sadar bahwa semua permpuan harus merasa cantik.. Bila seorang perempuan menyadari bahwa dirinya cantik, ia akan benar-benar terlihat cantik. Ini adalah sebuah lingkaran yang terus berkesinambungan. Semua perempuan cantik, dalam kecantikan yang berbeda-beda.
"Cantik bukan hal yang diberikan pada seseorang. Cantik adalah bagaimana seseorang mampu menampilkan the best side dari dirinya," kataku, diplomatis. Dan kulihat, temanku menatapku tajam-tajam.
"Kali ini aku setuju!" kata mereka kompak.
Bagaimana dengan Anda?

Selasa, 25 Desember 2007

Kenapa Harus Bangun Pagi?


Bangun pagi, itu sudah biasa...
Bangun agak pagi... juga sudah biasa...
Tapi kalau bangun pagi dan ingin tidur lagi.... Akankah jadi kebiasaan baru?

Pertanyaannya, kenapa kita harus bangun pagi??
Padahal, nikmat sekali pabila kita berciuman dengan bantal.. bergulat dalam hangatnya selimut .. dan menyanyikan simponi dengkur tipis tak bersuara....

Bangun pagi menjadi kemalasan yang harus dilawan...
Dengan apa? Dengan semangat (rasanya sudah maksimal) atau.... dengan suara televisi yang volumenya diputar hingga membisingkan telinga?...

Niat, adalah bangun, berjalan ke arah pancuran air, membasuh muka, dan membasahi sebagian tubuh (baca:wudhu).. bersujud pada sang Khalik, dan kemudian duduk di serambi, menyapu tatapan pepohonan...
Itulah bangun pagi yang hakiki.. Lebih bermanfaat lagi pabila rasa kantuk dilawan dengan semangat tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari anak-anak...
Idealnya hidup ini.....